Sabtu, 30 Desember 2017

Sejarah Desa Kerto

Siapa menyangka bahwa di sini pernah berdiri sebuah kerajaan besar, Kerajaan Mataram Islam di bawah Sultan Agung, cucu Panembahan Senopati. Sultan Agung adalah Raja Mataram yang berhasil memperluas pengaruh kerajaan sampai ke Jawa Timur, dan kemudian memindahkan pusat kekuasaan Mataram dari Kotagede ke Kerto. Di bawah Sultan Agung, Mataram mencapai jaman keemasannya.
Alamat situs kerto
Dusun Kerto, Desa Pleret, Kecamatan Pleret
Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Jejak Mataram di Situs Kerto Pleret Jogja
Situs Kerto Pleret Bantul Jogja merupakan situs yang menjadi saksi bisu jejak keberadaan Kerajaan Mataram yang pernah memiliki keraton di wilayah ini. Setelah meninggalkan Situs Watugilang Kotagede kami meluncur ke arah Selatan menempuh jarak 6,6 km, dengan memutar di Jl Ring Road Selatan menuju ke Barat, lalu belok kiri ke Jl Imogiri Timur.
Di perempatan kami belok kiri ke Jl Kedaton, lalu belok ke kanan di perempatan berikutnya. Tengara Situs Kerto ada di kiri jalan, 350 m dari perempatan terakhir, di kebun di tengah pedesaan.
Lengang. Siapa menyangka bahwa di sini pernah berdiri keraton kerajaan besar, Kerajaan Mataram Islam di bawah Sultan Agung, cucu Panembahan Senopati.
Sultan Agung adalah Raja Mataram yang memperluas pengaruh sampai Jawa Timur, dan memindahkan pusat kekuasaan dari Kotagede ke Kerto. Di bawah Sultan Agung, Mataram mencapai jaman keemasannya. Ia mengirimkan tentaranya untuk mengusir VOC dari Batavia, dan mendapat dukungan Cirebon dan Banten, namun usahanya gagal.
situs kerto pleret bantul
Tengara atau tanda Cagar Budaya Situs Kerto Pleret Bantul yang berada persis di tepi jalan. Tengara sudah terlihat mulai menua dan sedikit tersembunyi diantara bayang pohon-pohon pisang. Sayangnya juga tidak terlihat ada tengara atau poster lain di sekitar Situs Kerto yang memberi penjelasan kepada pengunjung tentang latar belakang sejarah situs ini.
Setelah sempat berbincang sejenak dengan seorang penduduk setempat yang tengah bekerja di kebun sebelah, yang sayangnya ia tidak tahu banyak tentang Situs Kerto ini, saya pun berjalan memasuki area situs. Situs Kerto Pleret yang menyimpan sisa-sisa peninggalan Keraton Mataram ini berada di dalam kebun terbuka tanpa pagar.
Peninggalan Keraton Mataram jaman Sultan Agung di Situs Kerto itu kini hanya menyisakan sejumlah umpak batu andesit berukuran besar yang biasa digunakan sebagai landasan pilar utama atau soko guru bangunan keraton. Umpak ini berada di tempat terbuka, dan hanya beberapa meter dari bibir tebing pendek yang tampaknya rawan longsor.
Umpak batu di Situs Kerto ini memiliki lubang di atasnya sebagai dudukan pilar, serta ada ornamen daunan di setiap sisinya. Saya hanya bisa berangan bahwa mudah-mudahan suatu ketika nanti dinas terkait dan masyarakat bisa merekonstruksi peninggalan ini. Setidaknya membersihkan umpak, dan meletakkannya dalam sebuah pendopo terbuka.
Adalah Amangkurat I, anak Sultan Agung, yang memindahkan Keraton dari Kerto ke Pleret pada 1647. Tidak diketahui alasannya, karena lokasi tidak terlalu jauh. Pleret kemudian diserbu, diduduki, serta dijarah oleh Trunojoyo pada 1677, yang membuat Amangkurat I lari ke arah Barat menuju Batavia, namun meninggal di Tegal Arum, Tegal.
Lekukan ornamen yang ada pada keempat sisi umpak di Situs Kerto Pleret. Besarnya umpak batu andesit ini bisa menjadi gambaran besarnya pilar bangunan keraton pada waktu itu. Mendapatkan kayu jati tua berukuran besar dan tinggi di masa itu tentunya masih sangat mudah, tidak sebagaimana saat ini. Sayangnya pilar kayu tak berumur lama.
Umpak batu kedua Situs Kerto Pleret berjarak beberapa puluh meter dari umpak batu pertama. Seorang penduduk setempat kemudian mendekat. Menurutnya beberapa meter dari umpak kedua ini ada susunan batu memanjang menyerupai dinding. Saya memang melihat ada semacam pembatas rendah dengan kebun sebelah, namun tidak terlihat lagi susunan batunya.
Orang itu kemudian mengantarkan saya ke lokasi penggalian situs Kerto lainnya, dengan berjalan melewati beberapa kebun milik penduduk. Lokasi ini terletak sekitar 200 m dari umpak batu, dengan spanduk kecil yang menandai status Cagar Budaya, serta himbauan untuk menjaga, peringatan serta ancaman bagi hukum bagi yang melanggarnya.
Kegiatan penggalian Situs Kerto ini tampaknya dihentikan sejak 2007. Hanya tersisa pagar pelindung sederhana yang terbuat dari bambu di Situs Kerto di lokasi ini yang bisa dilihat, dan entah sampai kapan akan bertahan terus seperti itu. Sebuah koran menyebut bahwa tempat ini diduga merupakan sisa-sisa Siti Hinggil Keraton Mataram.
------------
Sangat sedikit yang tahu jika Sultan Agung Hanyokrokusuma mengendalikan pemerintahannya dari sebuah daerah bernama Kerto. Kini pun orang juga hampir tidak peduli dengan situs bekas ibu kota Mataram Islam yang paling jaya sepanjang sejarah Mataram itu.
Selepas ibu kota Mataram berada di Kotagede, Sultan Agung memindahkan ibu kota ke Kerto disebelah selatan Kotagede. Kepindahan ke Kerto sebenarnya sudah dimulai saat ibu kota Mataram masih berada di Kotagede pada tahun 1614 dan baru ditempati pada tahun 1618.
Dari sini Sultan Agung yang bergelar Sultan Agung Senapati ing Ngalaga Abdurrahman mengendalikan roda pemerintahannya. Termasuk 2 penyerangan fenomenal dalam Situs Kerto ,
Usaha penaklukan Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Meskipun kedua serangan Mataram ke Batavia yang dikuasai VOC gagal, toh serangan kedua membuat Gubernur Jenderal VOC Jaan Pieter Zoon Coen meninggal dunia diduga akibat wabah kolera yang diciptakan para prajurit Mataram dengan cara membendung dan mengotori sungai Ciliwung hingga membuat wabah kolera di sana.
Kini, jika berkunjung ke situs Kerto, maka petilasan yang masih tampak adalah dua batu besar berupa umpak berdiameter hampir satu meter. Umpak itu sebagai penyangga saka guru bangunan utama keraton. Sebenarnya ada 3 umpak yang masih berada di situ. Satu yang lain kini berada di Masjid Saka Tunggal di dekat Taman Sari, Yogyakarta sebagai umpak Situs Kertopenyangga utama saka tunggal di dalam masjid.
Di dekat umpak yang sekarang dikelilingi kawat berduri dan tiang cor beton itu juga terdapat seperti anak tangga. Konon tangga itu menuju siti hinggil, bagian tertinggi keraton. Warga sekitar juga sering menyebut daerah itu sebagai lemah dhuwur, tanah tinggi.
Jika kini kita sedang berada di tengah-tengah situs Kerto, ada rasa yang membuat diri kita merasa masih berada di tengah-tengah keraton berabad yang lalu. Dan kita pun seperti sedang tidak percaya, bahwa di pelosok pojok tenggara Kota Jogja berdiri kerajaan yang pangkuan kekuasannya sampai Situs Kertohampir di seluruh Nusantara. Ada banyak yang berpendapat, Sultan Agung memerintah kerajaan dengan sahaja tetapi kegemarannya memperluas wilayah membuat Mataram menjadi jaya di zamannya.
Jejak Mataram di Kerto tidak hanya itu. Masjid Taqarrub yang kini masih tegak berdiri dan tetap dipakai untuk shalat berjamaah juga bagian dari Mataram di Kerto. Bagan Keraton Mataram selalu ada alun-alun di depan keraton, lalu di barat keraton ada masjid dan di depan alun-alun ada pasar sebagai pusat ekonomi. Masjid Taqarrub adalah masjid Keraton Mataram di Kerto zaman Sultan Agung jumeneng.
Empat tiang utama masjid yang berada di tengah-tengah bangunan utama ini sekarang ditinggikan sekitar 120 sentimeter dari ukuran aslinya. Serambi juga diperlebar Situs Kertodan diperluas. Seiring perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat kini bangunan masjid diperbarui. Tetapi 4 saka guru yang menjadi tiang bangunan utama tidak pernah diganti dan bangunan utama masjid masih utuh seperti sedia kala.
Keaslian yang lain juga tampak dengan adanya plakat tanda dari Patih Danureja yang ke-9 yang isinya lebih kurang tentang pemugaran Masjid Taqarrub. Plakat itu bertuliskan huruf Jawa dengan beberapa tulisan tahun aksara Arab. Ada dua plakat yang berada di dalam masjid, semua tergantung di serambi menuju ke pintu masuk masjid utama.
Di samping utara masjid terdapat sebuah prasasti dari masa Hindu berbentuk lingga. Prasasti ini sebagai penanda bahwa tanah di daerah tersebut telah diberikan oleh penguasa untuk masyarakat sekitar. Tidak diketahui secara pasti tentang detail isi prasasti. Prasasti tersebut merupakan duplikat dari prasasti asli yang sekarang tersimpan di Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY.
Lokasi:
Keduanya, Situs Kerto dan Masjid Taqarrub berada di Dusun Kanggotan, Desa Sebuah kayu berukir pada puncak beranda masjid.Kerto, Kecamatan Pleret, Bantul.
Transportasi:
Disarankan dengan kendaraan pribadi. Hampir semua lokasi ini menyatu dan seiring dengan jalur menuju Situs Keraton Pleret yang berjarak lebih kurang 16,5 kilometer arah tenggara Kota Jogja.
----------------
IMG_5500+Kuliner:
Sama dengan saat berada di Situs Keraton Pleret yang di sepanjang jalan dipenuhi dengan warung-warung sate yang cukup melegenda.

Keraton yang Hilang
Menelusuri jejak keraton Pleret dan Kerto yang sekarang terletak di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, seperti berlomba dengan cepatnya waktu. Puing-puing yang tersisa dari dua keraton di zaman Kerajaan Mataram Islam itu terus terancam oleh lubang-lubang galian dari usaha batu bata dan pembangunan tak terencana.
Tahun 2003 adalah awal persaingan warga Desa Pleret dengan Tim Arkeolog dari Dinas Kebudayaan DIY serta Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3). Mereka berlomba menggali lahan pekarangan dan persawahan di sekitar Pleret. Bedanya, Tim Arkeolog menggali untuk mencari dan menyelamatkan situs Mataram Islam di Pleret dan Kerto, sementara warga menggali lahan untuk bahan baku batu bata.
Di sejumlah titik, pembangunan pun semakin merambah lahan-lahan yang berpotensi memendam sisa-sisa bangunan keraton. Karena keberadaan bangunan baru itu, upaya ekskavasi makin sulit dilakukan.
Keraton Kerto dan Pleret pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan besar Mataram Islam pada abad XVII. Dari Keraton Kerto, Sultan Agung memimpin zaman keemasan Mataram Islam dan menggerakkan perlawanan kepada Belanda. Putra Sultan Agung yang bergelar Sunan Amangkurat I kemudian memindahkannya ke Pleret.
Dua keraton
Saat ini dua keraton bersejarah itu tinggal puing-puing yang tersebar atau terpendam tanah. Padahal, sebagai pusat kerajaan besar, Pleret dan Kerto dibangun dengan berbagai fasilitas. Berbagai fasilitas seperti Masjid Agung Pleret, beteng, dan alun-alun itulah yang coba digali Tim Arkeolog.
Koordinator Lapangan Tim Arkeolog Rully Andriadi mengatakan, ekskavasi dilakukan rutin untuk merekonstruksi dan mendokumentasikan detail kehidupan masa itu. Ekskavasi dan pendataan harus dilakukan secepat mungkin karena lubang-lubang galian batu bata yang dibuat penduduk beberapa kali merusak sisa-sisa struktur bangunan keraton. Batu bata maupun struktur bangunan yang berada di atas tanah pun banyak diambil untuk berbagai kepentingan.
”Belum lagi cepatnya pembangunan di kawasan. Lahan yang diduga masih mengandung sisa-sisa keraton ternyata telah digunakan membangun rumah sehingga tak bisa diketahui lagi apa yang tersimpan di lahan itu,” ujar Rully di Yogyakarta, akhir Juli 2010.
Dikubur lagi
Struktur bangunan yang ditemukan dalam ekskavasi pun sering kali terpaksa dikubur lagi. Hal ini untuk menghindari perusakan serta menghindari konflik dengan pemilik lahan. Sebagian lahan di sekitar situs keraton Pleret dan Kerto memang masih dimiliki dan digunakan warga.
Kondisi-kondisi ini jelas mempercepat hilangnya puing-puing yang tersisa. Untuk mencegahnya, ekskavasi dan pendataan harus dilakukan secepat mungkin. Namun, secepat apa pun Tim Arkeolog berusaha, upaya ini rupanya tetap sulit bersaing dengan laju kerusakan. ”Sampai sekarang baru sekitar 10 persen saja dari dua keraton ini yang berhasil diekskavasi dan didokumentasikan,” kata Rully.
Padahal, hingga saat ini masih banyak yang belum diketahui dari dua keraton ini. Referensi baru diperoleh secara sekilas dari naskah ilmuwan Belanda, surat-surat warga Belanda yang pernah ditawan Sultan Agung, dan beberapa naskah sastra kuno (babad) yang ditulis sastrawan keraton. Referensi-referensi tersebut tak banyak memberi gambaran rinci seperti teknologi yang telah dikembangkan di keraton.
Temuan berupa saluran air yang telah dilengkapi sistem saringan berlapis tahun 2008, misalnya, menunjukkan adanya teknologi yang telah berkembang di Keraton Kerto. ”Kalau teknologi-teknologi ini bisa diungkap, bisa jadi sumber ilmu bagi bangsa Indonesia,” ujar Rully.
Lurah Desa Pleret Nur Subiyantoro mengakui, pembangunan perumahan memang cukup pesat di daerah Pleret. Pleret menjadi pilihan para pengembang karena aksesnya yang mudah serta jaraknya yang tak terlalu jauh dari Kota Yogyakarta.
Bagi warga, kepentingan utama menggali lahan adalah untuk bahan batu bata. Di Desa Pleret ada ratusan perajin batu bata. ”Harga galian tanah sangat menggiurkan. Ada dua sistem yang biasanya dipakai, yakni menjual tanah dengan sistem truk. Harganya Rp 125.000 sampai Rp 140.000 per truk. Kedua, sistem penjualan per kubik dengan harga sekitar Rp 20.000 per meter kubik,” kata Nur.
Lahan yang digali tak hanya pekarangan, tetapi juga persawahan. Bekas galian dibiarkan begitu saja tanpa penanganan. Pemilik biasanya menjual lahan yang sudah rusak dengan harga murah. ”Setelah tidak bisa digali lagi, sawah saya jual seharga Rp 50 juta. Luas sawah sekitar 300 meter persegi,” kata Sakiyem (45), pembuat batu bata di Desa Pleret.
Saat menggali, tak jarang warga menemukan situs-situs peninggalan Mataram Islam. Kadang kondisinya rusak karena penggaliannya asal-asalan. Salah satunya adalah penemuan sumur tua yang diperkirakan dibuat abad ke-17. Dindingnya terbuat dari gerabah dengan diameter 70 cm dan tinggi 35 cm. Sumur tersebut ditemukan di Dusun Gunungkelir, Desa Pleret, pada tahun 2008.
Batu bata
Tradisi pembuatan batu bata juga tak lepas dari keberadaan Mataram Islam. Saat Sunan Amangkurat I berkuasa, ia memerintahkan rakyatnya untuk membuat batu bata sebanyak-banyaknya. Tujuannya untuk membangun sebuah istana di Pleret. Perintah Sunan Amangkurat I, yang ditulis dalam Babad Tanah Jawi I tersebut, menjadi titik awal tradisi pembuatan batu bata di Kecamatan Pleret.
Keraton dibangun pada abad XVI dengan luas 2.256 meter dikelilingi tembok dengan tinggi 6 meter dan tebal 1,5 meter. Semuanya terbuat dari batu bata. Setelah dihancurkan Belanda, batu bata bekas keraton lalu dimanfaatkan untuk membangun pabrik gula.
Pembangunan Keraton Pleret konon melibatkan sekitar 300.000 penduduk dengan sistem kerja paksa. Pembangunan tersebut telah banyak menularkan teknik pembuatan batu bata ke banyak warga. Setelah keraton berdiri megah, warga tetap membuat batu bata.
Usaha batu bata memuncak pascagempa bumi 2006. Banyaknya aktivitas pembangunan fisik pascagempa membuat permintaan akan batu bata melonjak tinggi. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bantul, jumlah rumah yang rusak total 71.763 unit, rusak berat 71.372 unit, dan rusak ringan 73.669 unit.
Juru Pelihara Situs Keraton Pleret yang juga anggota Badan Perwakilan Desa Pleret, Rahmat Fauzi, mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Dia berharap pemerintah dan aparat desa setempat memberikan perlindungan terhadap lahan-lahan situs yang berpotensi masih mengandung sisa-sisa keraton zaman Mataram Islam. Perlindungan diperlukan sebelum keraton itu benar-benar hilang.
Talut Air Peninggalan Kerajaan Mataram Islam Ditemukan
Tim Ekskavasi Dinas Kebudayaan Provinsi DIY kembali menemukan situs bersejarah berupa struktur bangunan air sepanjang 4 meter di Desa Kerto, Kecamatan Pleret, Bantul, Yogyakarta, di depan rumah seorang warga bernama Misbakhul Munir (80 tahun). Talut air tersebut diperkirakan peninggalan Keraton Kerto yang berdiri pada zaman Mataram Islam.
Selain talut air, tim juga menemukan kerang serta artefak yang berupa fragmen gerabah dan keramik dari China. Menurut Koordinator Lapangan Ekskavasi Rully Andriadi, kareng adalah bukti adanya endapan air. "Sepertinya tempat tersebut adalah bekas kolam keraton," Rully menduga-duga. Sementara itu, temuan lain berupa artefak menjadi bukti adanya hunian dan aktivitas manusia.
Sebulan sebelumnya Rully dan timnya menemukan situs bersejarah berupa konstruksi benteng sisi selatan Keraton Pleret berupa batu bata merah yang terkubur hingga 1,5 meter. Keraton Kerto dan Pleret adalah bagian Kerajaan Islam yang saat ini menjadi kawasan cagar budaya. Kawasan ini mempunyai nilai sejarah tinggi karena memiliki banyak peninggalan arkeologi Hindu, Buddha, Islam, serta kolonial Belanda.
Sejak tahun 2005, penelitian dilakukan untuk menemukan posisi asli, tata ruang, dan komponen keraton. Rully mengaku kesulitan melacak bukti-bukti sejarahnya. "Selain sudah dihuni perkampungan penduduk, jejak kedua keraton juga sudah hilang karena berbagai peristiwa," kata Rully. Peristiwayang dimaksud meliputi pemberontakan pada masa Amangkurat I dan IV, pertempuran Diponegoro, serta penghancuran bangunan keraton untuk pabrik gula.
Arsip mengenai kedua keraton ini sangat minimal. Menurut Rully, bahkan Keraton Yogyakarta pun tidak memilikinya. Informasi mengenai Keraton Pleret dikumpulkan Rully lewat tulisan orang Belanda bernama Jan Vos yang dulu pernah berkunjung ke Pleret. "Semua tulisan itu ada di Belanda,” katanya.
Beberapa situs bersejarah yang sudah ditemukan adalah konstruksi benteng sebelah barat Keraton Pleret, artefak, situs Masjid Kauman Pleret, hingga makam istri Raja Amangkurat I. Benda-benda berserajah tersebut sebagian disimpan di Museum Pleret, Bantul, Yogyakarta.

Kemistisan/Kekeramatan di Alas Purwo

Peninggalan Majapahit Yang Tersembunyi di Alas Purwo


Mendengar nama Alas Purwo, imajinasi orang pasti akan tertuju pada sebuah kawasan hutan lebat. Hal itu memang benar, Alas Purwo adalah sebuah kawasan hutan Taman Nasional di bawah lingkup Departemen Kehutanan dan Perkebunan.
Alas Purwo terletak di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Bagi masyarakat sekitar nama alas purwo memiliki arti sebagai hutan pertama, atau hutan tertua di Pulau Jawa
tak heran bila masyarakat sekitar menganggap Alas Purwo sebagai hutan keramat. sehingga selain diminati sebagai tujuan wisata alam, kawasan Alas Purwo juga diyakini memiliki situs-situs yang dianggap mistis yang menjadi magnet bagi para peziarah untuk melakukan berbagai ritual di hutan ini.
Alas Purwo sangat tepat bagi para spiritualis yang ingin melakukan ritual , atau mereka yang menyukai wisata ziarah. Taman Nasional Alas Purwo memang memiliki hutan yang masih alami, beberapa Goa dan pura, serta situs-situs mistis yang kerap menjadi lokasi bersemedi atau tirakat masyarakat setempat dan para pendatang.
Ternyata, di ujung selatan Alas Purwo terdapat satu kawasan situs Hindu peninggalan Kerajaan Majapahit dan kerajaan era sebelumnya, yang oleh masyarakat setempat lalu dibangun menjadi sebuah pura, tempat peribadatan umat Hindu. Kawasan situs yang berada di Kecamatan Tegaldlimo Banyuwangi ini adalah sisa-sisa kekayaan budaya Majapahit yang tak sempat dihancurkan oleh Demak, karena tersembunyi di hutan.
Menurut sesepuh warga Tegaldlimo, Ali Wahono, sebetulnya Pura Giri Selaka atau yang disebut sebagai Pura Alas Purwo ditemukan secara tidak sengaja oleh masyarakat pada tahun 1967. Saat itu, masyarakat Kecamatan Tegaldlimo melakukan perabasan terhadap sejumlah kawasan hutan Alas Purwo untuk bercocok tanam. Daerah di kawasan itu memang cukup makmur dengan hasil palawijanya. Di tempat berdirinya Pura Alas Purwo inilah, masyarakat menemukan sebuah gundukan tanah.
“Masyarakat ingin meratakan dan menjadikan lahan cocok tanam. Tapi ternyata, ada bongkahan-bongkahan bata besar yang masih tertumpuk, persis seperti gapura kecil. Masyarakat sekitar lalu membawa bongkahan bata-bata itu ke rumahnya. Ada yang menjadikan bahan membuat tungku dapur, ada juga untuk membuat alas rumah,” ujarnya.
Ternyata, keluguan masyarakat itu lalu menyebabkan munculnya musibah bagi warga yang mengambil bata-bata tersebut. Selang beberapa saat setelah mengambil bata itu, semua pelakunya jatuh sakit. Pada saat itulah, ada sabda agar bongkahan batu bata tersebut dikembalikan ke tempatnya semula, karena bongkahan-bongkahan itu adalah tempat petapaan maharesi suci Hindu zaman dulu.
Meski belum ada catatan resmi dalam prasasti, masyarakat mempercayai yang malinggih (bertahta) di situs Pura Alas Purwo adalah Empu Bharadah, sosok yang menurut legenda mampu membelah Sungai Brantas dengan kesaktiannya. Selanjutnya, pasca penemuan, masyarakat setempat lalu menjadi sangat yakin dengan kekuatan dan kesucian situs Alas Purwo tersebut.
“Sampai ada keinginan seorang warga untuk memagari situs itu agar aman dari jangkauan orang jahil. Tetapi, belum sampai tuntas mewujudkan keinginannya, warga tersebut keburu meninggal. Dari kejadian itu didapatkan sabda, kalau situs Alas Purwo itu wajib dipuja semua umat manusia di muka bumi ini tanpa dibatasi sekat-sekat golongan,” sambungnya.
Pihak Dinas Purbakala pun akhirnya berniat menjadikan situs Alas Purwo sebagai benda peninggalan sejarah. Di sisi lain, umat Hindu yang ada di sekitar kawasan tersebut, yang secara turun-temurun mengaku sebagai penganut kebatinan / kejawen untuk alasan keselamatan mereka, sangat menghormati dan merawat dengan seksama situs tersebut.
Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, umat Hindu akhirnya membuatkan sebuah pura, sekitar 65 meter dari situs Alas Purwo saat ini. Ini dilakukan tahun 1996, ketika agama Hindu sudah berkembang kembali di tanah air, dan warga setempat yang sebagian besar petani sudah banyak yang beralih menganut agama leluhur mereka, Hindu. Ini dilakukan dengan bantuan umat Hindu Bali. Situs yang ditemukan itu sendiri dibiarkan seperti semula, namun tetap menjadi tempat pemujaan untuk umum, tak terbatas bagi umat Hindu.
Untuk menuju Pura Alas Purwo yang disungsung umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, para pengunjug harus memasuki kawasan hutan Taman Nasional Alas Purwo. Dari pintu depan kawasan hutan Taman Nasional, diperlukan waktu satu jam menuju Pura Giri Selaka, melewati hutan jati yang rimbun, yang terkadang bercabang jalannya tanpa adanya petunjuk arah.
Bagi pengunjung yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, masyarakat setempat sudah menyiapkan sebuah angkutan tradisional yang lazim disebut grandong. Angkutan ini mirip sebuah mobil truk, akan tetapi mesinnya menggunakan mesin genset. Harga sewanya menuju Pura Giri Selaka sekitar Rp 3.000 sekali angkut.
Pura Giri Selaka berada di tengah hutan Alas Purwo, sekitar tiga kilometer dari kawasan wisata Pantai Plengkung, ujung selatan Alas Purwo, yang juga ujung tenggara Pulau Jawa. Di kawasan ini, memang tidak ada satu pun rumah penduduk. Apabila ingin bermalam, pihak pengelola Taman Wisata menyediakan sejumlah penginapan sederhana, yang jaraknya sekitar satu kilometer dari Pura Giri Selaka. 

Mitos Asal-Usul Pantai “Watu Ulo” Jember-Jawa Timur


Masyarakat Jember menceritakan bahwa nama pantai Watu Ulo bermula dari kisah berikut. Pada zaman dahulu Ajisaka (baca: Ajisoko) datang ke tanh Jawa. Di Jawa, negeri Medang Kamula, ia mengajarkan ilmu pengetahuan agama dan kesaktian kepada masyarakat. Saat mengajari murid-muridnya, ilmunya didengar ayam yang sedang mencari makan di bawah pondok perguruannya. Seharusnya, siapapun tidak boleh mendengar ajaran Ajisaka, selain murid yag sudah diijinkan. Karena mendengar matra-mantra yang diajarkan kepada muridya, seekor ayam itu mendadak bertelur yang amat besar, tidak seperti biasanya.
Saat telur itu dierami dan menetas, ternyata yang keluar dari cangkang telur bukan anak ayam, tetapi anak naga raksasa, yang mampu berbicara seperti manusia. Anak naga itu bicara terus, dan menanyakan siapa ayahnya. Oleh masyarakat setempat naga itu diberi tahu kalau ingin tahu siapa ayahnya, disuruh tanya ke rang sakti bernama Ajisaka. Lalu, anak naga itu mendatangi Ajisaka dan bertanya siapa ayahnya. Ajisaka tidak terkejut, lalu diberi tahulah anak naga itu bahwa sebenarnya anak naga itu memang anaknya yang tercipta dari telur ayam lewat mantra-mantra. Walaupun mengakui naga itu sebagai anaknya, Ajisaka tidak mengijinkan naga itu ikut dengannya. Ajisaka menyuruh anak naga itu bertapa di pantai laut selatan. Kemudian anak naga itu bertapa di pantai selatan.
Saat bertapa, naga itu sesekali bangun dari meditasi untuk makan binatang apa saja di sekitarnya. Ratusan tahun ia bertapa, badannya tambah besar. Badannya di Jember, kepalanya sampai Banyuwangi, dan ekornya memanjang sampai Jawa Tengah. Karena tubuhnya membesar akibatnya makanan di sekitarnya tidak cukup, maka sesekali naga itu mencari makan di tengah laut selatan.
Karena lamanya bertapa sampai badannya ditumbuhi lumut seperti kayu. Suatu hari, penduduk di sekitar pertapaan naga kehabisan kayu bakar. Penduduk menemukan kayu besar dan memanjang maka dipotonglah kayu itu. Saat dipotong kayu itu mengeluarkan getah seperti darah, sehingga semua penduduk terheran-heran tetapi penduduk tetap saja mengambilnya sebagai kayu bakar.
Sampai sekarang naga yang telah besar itu masih bertapa di pantai laut selatan, tetapi tubuhnya tidak lengkap lagi karena dipotong penduduk untuk kayu bakar, tinggal kepalanya ada di Banyuwangi, badannya di pantai selatan Jember, dan ekornya di Jawa Tengah. Bagian-bagian tubuh itu mengeras seperti batu, dan sampai sekarang masih bisa ditemukan batu-batu seperti sisik kulit ular di pantai selatan Jember. Oleh penduduk, pantai itu disebut pantai “Watu Ulo” (Batu Ular) karena batu-batunya tersusun seperti sisk kulit ular. Konon pada saatnya naga itu akan berubah menjadi manusia yang sakti dan akan menjadi pemipin dan penguasa di tanah Jawa atau Indonesia. (Dikumpulkan dan diceritakan ulang dari cerita masyarakat Jember dan sekitarnya)
Disadur sepenuhnya dari buku Mitos dalam Tradisi Lisan Indonesia Karya Dr. Sukatman, M.Pd. halaman 35-36.
VERSI LAIN :
Mitos versi lain :Konon, dahulu kala, hiduplah sepasang suami istri yang bernama Aki dan Nini Sambi. Pasangan ini dikaruniai anak yang bernama Joko Samudera. Si ayah bekerja mencari kayu bakar di perbukitan di sekitar pantai, sedangkan si anak mencari ikan di laut. Di suatu hari, Aki serta Nini Sambi yang tengah mencari kayu bakar mendengar adanya suara tangisan bayi. Mereka lantas mencari sumber suara tersebut yang ternyata berasal dari seorang bayi laki-laki. Merasa tidak tega, Nini Sambi pun lantas jatuh kemudian dan merawat si bayi. Bayi ini kemudian diasuh dan diberi nama Marsudo.
Seiring waktu berlalu, kedua anak lelaki Aki dan Nini Sambi pun tumbuh dewasa. Mereka secara bergantian mencari ikan di laut. Suatu ketika Marsudo sedang mencari ikan, dia begitu kaget ketika mengangkat pancingnya dan yang didapatkannya adalah seekor ikan raksasa yang dapat berbicara. Ikan yang bernama Raja Mina itu pun ingin Marsudo melepaskan dirinya. Dan sebagai ganti, Raja Mina akan mengabulkan semua keinginannya. Marsudo lantas melepas ikan raksasa tersebut. Dengan rasa terima kasih, Raja Mina langsung berenang pergi. Akan tetapi, sesampaianya dia di rumah, Marsudo malah dimarahi oleh orang tuanya sebab melepaskan ikan yang sangat besar itu. Tidak tega saudaranya kena marah, Joko Samudera pun pergi memancing ke laut untuk menggantikan adiknya itu. Bukannya mendapatkan ikan, Joko Samudera malahan mendapatkan seekor ular laut raksasa. Ular tersebut mengamuk ketika kail pancing Joko Samudera telah melukai tubuhnya.
Joko Samudera dan Ular raksasa pun berduel sengit. Melihat kakaknya tengah berjibaku melawan ular raksasa, Marsudo pun memanggil Raja Mina yang sebelumnya dia selamatkan. Dia menagih janji Raja Mina untuk memenuhi permintaannya. Ia meminta Raja Mina memenangkan kakaknya dalam melawan ular raksasa itu. Raja Mina pun lantas memberi Marsudo cemeti (cambuk). Ikan yang dapat berbicara tersebut berpesan supaya Ia memukul tubuh ular raksasa itu dua kali, sehingga tubuh ular akan terbelah menjadi tiga. Pisahkanlah ketiga bagian tubuh ular itu ke 3 tempat, jadi tidak dapat bersatu kembali. Karena jika bersatu, ular tersebut akan hidup lagi. Ular tersebut pun lantas dapat ditaklukkan. Dan saat ini, di pinggir pantai Watu Ulo, terdapat gugusan batu yang seperti anatomi tubuh ular yang sangat besar. Panjang serta berlekuk, permukaannya pun seperti sisik. Menarikbukan? Itulah Legenda dibalik wisata pantai Watu ulo yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
DAN MASIH ADA VERSI YANG LAIN LAGI YG TDK KAMI POSTING... WALLAHUALAM BISHSHAWAB...

Kerajaan Jin Pulomas Indramayu


(boleh percaya boleh tidak )
Seandainya sebagian dinding istana Pulomas itu runtuh lalu masuk ke muara Cimanuk, niscaya bakal muncul areal pendulangan emas terbesar di seluruh jagat. Dengan runtuhnya dinding istana itu maka seisi muara bakal mengandung emas melebihi kandungan lumpur emas di sungai Musi, Kalimantan. Bahkan konon akan lebih besar dari hasil penambangan di Irianjaya.
Sayangnya, dinding istana yang terbuat dari emas itu sangat kokoh, dan istana itupun adanya hanya di alam gaib Pulomas. Di alam manusia, Pulomas hanya berupa rawa-rawa yang bersisian dengan muara Laut Jawa, persisnya berada di Kampung Pulomas, Desa Centigi Sawah, Kecamatan Centigi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Di atas rawa-rawa seluas puluhan hektare itu, menurut terawangan gaib, berdiri kompleks istana dengan bahan terbuat dari emas murni.
Kerajaan dengan keraton sangat megah itu sampai saat ini dipimpin oleh sesosok raja jin sangat sakti bergelar Raden Werdinata, dengan Mahapatihnya yang juga cukup tersohor yakni Mahapatih Jongkara. Sang rajua juga dibantu Panglima Perang bergelar Panglima Kalasrenggi.
Diceritakan oleh juru kunci Kampung Pulomas yang akrab disapa Wak Cartim, dibandingkan raja-raja lain yang menguasai alam gaib, Raja Pulomas tergolong paling tinggi ilmu kadigdayaannya. Alam gaib terbagi dua wilayah, yakni wilayah atas bumi dan di bawah laut. Alam gaib bawah laut dikuasai Nyi Ratu Roro Kidul untuk wilayah Pantai Selatan, sedangkan Pantai Utara dikuasai Nyi Ratu Nawangwulan.
“Kesaktian Raden Werdinata sempat tercatat dalam sejarah berdirinya daerah Kabupaten Indramayu,” ungkap Wak Cartim.
Dikisahkan, semasa Indramayu masih belum punya nama serta masih berupa hutan belantara, singgah seorang kesatria yang sedang mengemban tugas besar. Kesatria itu berasal dari Desa Banyu Urip, Kecamatan Banyu Urip, Kabupaten Bagelen, Jawa Tengah, bergelar Raden Wiralodra.
Kesatria berdarah biru dari Kerajaan Majapahit itu mengemban tugas membuka hutan belantara di lembah Sungai Cimanuk. Untuk menjalankan tugas dari leluhurnya, dia ditemani seorang punakawan atau pembantu yang sangat setia serta sakti bernama Ki Tinggil.
Selama tiga tahun lebih keduanya berjalan kaki dari Bagelen, Jawa Tengah dengan tujuan hutan belantara lembah Sungai Cimanuk. Tetapi, karena ketidaktahuan, mereka kebablasan sampai ke hutan lembah Sungai Citarum, Kabupaten Karawang. Berdasarkan keterangan Ki Sidum seorang manusia kuno sangat sakti dari Kerajaan Pajajaran, Raden Wiralodra dan punakawannya menyadari kalau perjalanannya itu kebablasan.
Melalui perjuangan keras serta mengikuti binatang peliharaan pemberian Ki Sidum yang berupa seekor Kijang Kencana, akhirnya sampai juga mereka ke hutan di lembah Sungai Cimanuk. Tiga bulan membabat hutan di lembah sungai, halangan pun datang. Ternyata di hulu Sungai Cimanuk ada kerajaan jin yang membawahi raja-raja kecil di alam gaib sepanjang aliran sungai sejak Kabupaten Sumedang hingga ke muara Laut Jawa pantai utara Indramayu.
Maharaja jin di hulu sungai itu bernama Budipaksa, yang didampingi seorang mahapatih bernama Bujarawis. Maharaja Budipaksa ini membawahi raja-raja kecil, di antaranya Kerajaan Tunjungbong yang dipimpin Kalacungkring, Kerajaan Pulomas yang dipimpin Raden Werdinata, dan kerajaan-kerajaan jin lainnya sampai tercatat sebanyak 12 kerajaan.
Kehadiran Raden Wiralodra di hutan lembah Sungai Cimanuk membuat gerah bahkan menciptakan teror menakutkan di kalangan bangsa jin dan makhluk halus lainnya yang menetap di lembah sungai. Atas laporan teliksandi, Mahapatih Bujarawis mengadukannya ke Maharaja Budipaksa. Mendengar pengaduan dari mahapatihnya, Maharaja Budipaksa marah besar. Tanpa buang waktu, Maharaja Budipaksa didampingi Mahapatih Bujarawis menyatroni Raden Wiralodra yang sedang membabat hutan didampingi Ki Tinggil.
Diawali perdebatan, terjadilah pertarungan secara kesatria di lembah Sungai Cimanuk. Maharaja Budipaksa berhadapan dengan Raden Wiralodra, sementara Mahapatih Bujarawis berhadapan dengan Ki Tinggil.
Konon, pertarungan dua makhluk berbeda alam itu berlangsung selama dua bulan. Karuan hal ini membuat penduduk gaib di tempat itu bubar ketakutan.
Berkat kesaktian Raden Wiralodra, Maharaja Budipaksa berhasil dilumpuhkan dan dikurung di dasar muara Sungai Cimanuk. Dikisahkan, sebelum dilumpuhkan, Maharaja Budipaksa memerintahkan Mahapatih Bujarawis supaya meminta bantuan para raja kecil taklukannya. Namun, sepuluh raja taklukan Maharaja Budipaksa beserta mahapatihnya dengangampangnya dilumpuhkan oleh Raden Wiralodra dan Ki Tinggil. Hanya Raden Werdinata yang masih bertahan. Dia bertarung melawan Raden Wiralodra, sementara Mahapatih Jongkara maupun Panglima Kalasrenggi kabur dihajar ilmu pamungkas Ki Tinggil.
Karena punya kesaktian seimbang, pertarungan antara Raden Werdinata dengan Raden Wiralodra memakan waktu 11 bulan. Senjata andalan Raden Wiralodra berupa Cakrabaswara yang telah melumpuhkan Maharaja Budipaksa ternyata mampu diatasi Raden Werdinata dengan menggunakan pusaka berupa tameng bernama Kopyahwaring, pusaka turun temurun Kerajaan Pulomas.
Sebelum ada yang jatuh korban, muncul Kalacungkring, penguasa gaib Kerajaan Tunjungbong. Kalacungkring menyarankan pada Raden Werdinata supaya menghentikan pertarungan dan sebaiknya menjalin persaudaraan dengan Raden Wiralodra. Selain dengan dalih Maharaja Budipaksa sudah dikurung di dasar muara Cimanuk, alasan yang paling utama adalah karena ketakutan bilamana leluhur Raden Wiralodra tersinggung. Jika manusia-manusia kuno Majapahit setingkat Ki Sidum murka, niscaya kerajaan alam gaib di sepanjang lembah Sungai Cimanuk dibuat musnah untuk selama-lamanya.
Atas saran Kalacungkring, Raden Werdinata meminta lawannya agar menyudahi pertarungan dan mengajak mengikat tali persaudaraan hingga ke anak cucu. Sebagai pengikat persaudaraan, Raden Werdinata menyerahkan putri kesayangannya bergelar Putri Inten untuk diperistri Raden Wiralodra.
Setelah perdamaian itu, dengan dibantu para prajurit dan penduduk Pulomas, tugas mendirikan kerajaan di lembah Sungai Cimanuk lebih cepat selesai, dan Raden Wiralodra tercatat menjadi pemimpin pertama kerajaan di lembah sungai tersebut, yang hingga kini bernama Kabupaten Indramayu.
Sebagai bangsa jin yang diberi umur panjang, meski Raden Wiralodra telah wafat dan digantikan keturunannya bahkan sampai sekarang ini, Raden Werdinata masih kokoh memimpin kerajaan Pulomas didampingi Mahapatih Jongkara. Sedangkan Panglima Kalasrenggi, setelah kabur dari hadapan Ki Tinggil kini menjadi pemimpin raja kecil di Rawabolang, masuk Desa Jatisura, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu.
Seiring perubahan zaman, ikatan persaudaraan antara penduduk gaib Kerajaan Pulomas dengan penduduk Kabupaten Indramayu mulai menyimpang dari makna persaudaraan yang sejati. Penduduk Kerajaan Pulomas siap membantu berbagai problem terkait soal ekonomi yang dialami manusia penduduk Kabupaten Indramayu dengan kompensasi, manusia bersangkutan, sesuai dengan perjanjian menjadi budak di alam gaib Pulomas hingga hari khiamat.
Seiring banyaknya penduduk bangsa manusia yang terjerumus ke dalam perjanjian jiwa, lambat laun Pulomas dikenal sebagai tempat pesugihan. Keberadaan Pulomas sebagai tempat pesugihan, belakangan gaungnya sudah meluas, sehingga orang yang mengadakan laku ritual pesugihan di Pulomas bukan sebatas warga Indramayu, melainkan datang dari berbagai daerah di Pulau Jawa bahkan hingga ke Sumatera.
Wak Cartim selaku juru kunci memang bukan orang yang dibekali wawasan kehumasan, sehingga dia tidak sekalipun menyediakan buku tamu di kediamannya. Tapi, dari pengakuan para tamu yang minta dibantu melakukan ritual pesugihan, mereka banyak yang datang dari luar Kabupaten Indramayu, bahkan dari luar Pulau Jawa.
Rumah juru kunci pesugihan Pulomas yang sangat tersohor itu, sulit diterima akal sehat. Awalnya Misteri membayangkan rumah Wak Cartim semegah Villa di Gunung Guci, namun ternyata hanya berupa gubuk berdinding bilik anyaman bambu beratap welit yang terbuat dari daun bambu. Di dalamnya hanya terdapat ruang tamu, kamar tidur dan kamar dapur merangkap kamar mandi.
Umur Wak Cartim mungkin di atas 60 tahun. Dia hanya seorang diri menempati rumah gubuk yang berada di bawah rindangnya pohon Asam Jawa itu. Di sekelilingnya dipagari hutan mangrove. Jarak dengan pemukiman penduduk Desa Centigi Sawah sekitar 5 kilometer yang hanya dihubungkan jalan setapak tanpa koral.
Jika siang hari, untuk sampai di rumah juru kunci bisa memanfaatkan jasa ojeg dengan ongkos Rp. 5.000. Jika ada keinginan untuk refreshing, disarankan jalan kaki sambil menyusuri tepian pantai. Meskipun disana-sini sudah tercipta bibir pantai curam akibat abrasi, namun tetap masih menyisakan panorama khas pantai yang indah untuk dinikmati.
Tapi jika lepas Maghrib, jangankan dibayar duakali lipat, dibayar seratus ribu pun tidak bakalan ada tukang ojeg yang bersedia mengantar ke rumah Wak Cartim. Paling disarankan menginap di rumah penduduk untuk berangkat keesokan paginya. Memang tidak sulit mendapatkan penginapan di tempat itu. Nyaris setiap rumah penduduk di desa itu dengan senang hati disinggahi dengan membayar sewa inap sebesar Rp. 50.000 semalam. Dengan sewa sebesar itu malamnya mendapatkan jamuan kopi hangat berikut cemilan khas kampung, dan keesokan paginya seusai mandi mendapatkan segelas kopi disusul sarapan berupa longsong. Sehingga jika ditotal, sewa 50.000 benar-benar murah meriah.
Namun ternyata tidak gampang mengadakan ritual pesugihan di Pulomas. Selama seharian, Wak Cartim tak bosan-bosannya menasihati tamunya supaya mengurungkan rencananya yang jelas-jelas menyimpang dari syariat agama itu. Jika seharian dinasihati tetap ngotot, maka malamnya baru bisa digelar ritual gaib dipandu langsung Wak Cartim.
Ada juga bocoran dari Wak Cartim, khusus bagi orang yang lahir hari Jumat, jangan coba-coba mengadakan ritual, karena dijamin ditolak penduduk gaib Pulomas.
Tidak aneh ketika menyebutkan nama Misteri yang memang lahir hari Jumat karena berawal sukukata “Dha”, tanpa banyak dalih langsung ditolak. Tapi, karena maksud singgah di tempat itu bukan untuk ritual pesugihan melainkan dalam rangka menghimpun bahan tulisan, dengan agak berat hati, Wak Cartim mengizinkan Misteri untuk bermalam di rumah gubuk miliknya.
Malamnya, sejak lepas Isya, Wak Cartim langsung mengajak Misteri bincang-bincang di ruang tamu. Di ruangan ini hanya tersedia tikar pandan dan bantal kapuk randu. Tak ada perangkat meubeler, akibatnya, mesti duduk bersila di lantai tanah yang dilapisi tikar.
Ada yang aneh, meski rumah berada di sekitar rawa dengan dinding bilik dari anyaman bambu, namun di ruang tamu ini tidak terdengar dengungan nyamuk walau satu ekorpun.
Dalam perbincangan, Wak Cartim lebih mendominasi. Banyak sekali yang diceritakan, mulai soal tamu-tamu yang seluruhnya dari kalangan orang-orang gagal dan putus asa, hingga petikan sejarah kerajaan gaib Pulomas seperti yang sudah dipaparkan di muka.
“Karena umurnya mendekati seribu tahun, Gusti Raden Werdinata kini lebih banyak berada di ruang kholwat daripada mengurusi pemerintahan. Beliau lebih banyak berdzikir kepada Allah daripada urusan dunia,” kata Wak Cartim.
Mendengar penuturan kali ini, Misteri dibuat heran. Keheranan di benak Misteri rupanya bisa terbaca. Wak Cartim langsung menjelaskan, semasa masih di bawah pengaruh Maharaja Budipaksa, Raden Werdinata tidak memiliki agama apapun kecuali adat leluhur. Tapi, sejak resmi mengikat persaudaraan dengan Raden Wiralodra, dia menyatakan diri masuk ajaran agama Islam.
Sebagai Raja muslim yang taat, Raden Werdinata tidak pernah dan tidak akan menyesatkan manusia apalagi dari keturunan Raden Wiralodra. Lalu siapa yang mengadakan ikatan perjanjian pesugihan dengan bangsa manusia?
“Sama halnya bangsa manusia, bangsa jin di Pulomas pun ada yang menganut Islam dan agama lainnya, juga ada yang melestarikan adat leluhur. Ada penduduk yang berbudi luhur ada juga yang berperangai jahat. Nah, penduduk Pulomas yang berperangai jahat inilah yang selama ini menangani proses perjanjian pesugihan dengan manusia,” urai Wak Cartim.
Logikanya, mustahil seorang raja mau melayani urusan manusia dari kalangan rakyat biasa. Selain tidak pernah menyesatkan, Raden Werdinata juga konsisten dengan ikatan persaudaraan dengan Raden Wiralodra meski saudaranya itu sudah wafat sejak ratusan tahun silam. Buktinya, dalam dzikirnya, suatu malam Raden Werdinata mendapat petunjuk bahwa daerah Indramayu bakal diterjang ombak pemusnah (Tsunami). Tanpa banyak pertimbangan, dia menyudahi dzikirnya lalu mendatangi penguasa Pantai Utara.
Di hadapan Nyi Ratu Nawangwulan, Raden Werdinata meminta supaya ombak pemusnah itu jangan sampai menerjang penduduk Indramayu. Jika ombak pemusnah itu sampai menerjang, dia sepakat untuk bertarung.
Meskipun sadar ilmu Nyi Ratu Nawangwulan jauh lebih tinggi, demi ikatan persaudaraan dengan Raden Wiralodra, dia rela mempertaruhkan nyawanya mati di tangan Nyi Ratu Nawangwulan.
“Untungnya Nyi Ratu Nawangwulan bersedia memenuhi permintaannya, sehingga ombak pemusnah itu urung menerjang Indramayu dan berputar menerjang daerah Pangandaran, Kabupaten Ciamis,” ungkap Wak Cartim, menutup kisahnya.
Menjelang tengah malam, Wak Cartim pamit untuk mengadakan ritual pribadi di kamar tidurnya, sementara Misteri disuruh tetap di ruang tamu dengan ditemani bantal kumal.
Seiring merembesnya bau buhur jin dari sela-sela dinding bilik kamar tidur, alam mimpi pun tersingkap dan Misteri tidur di ruang tamu yang lumayan sempit itu.