Jumat, 05 Oktober 2012

Masjid Besar Cisaga Diresmikan Gubernur Jawa Barat

Mesjid Besar Kecamatan Cisaga atau dahulu disebut Mesjid Agung Cisaga yang mulai dibangun kembali pada sekitar tahun 2008 akhirnya diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat. Pembangunan yang begitu lama itu karena dana untuk pembangunan yang tidak begitu lancar hingga dalam pengerjaannya jadi agak tersendat.
Proses finishing memakan waktu hampir satu tahun yang mencakup interior dan eksterior bangunan mesjid.
Masjid Besar Kecamatan Cisaga yang bagu dibangun total terdiri dari dua lantai, satu lantai sebagai Gedung Dakwah yang berada di lantai dasar dan lantai pertama diperuntukan sebagai mesjid. Dana yang dihabiskan dalam pembangunan Masjid Agung Kecamatan Cisaga beserta Gedung Dakwah, menara masjid dan sarana penunjang lain termasuk tempat wudhu, toilet umum dan lahan parkir diperkirakan menelan biaya sekitar 3,5 milyar rupiah yang dananya berasal dari sumbangan berbagai donatur.
Ketua Panitia Pembangunan Masjid Besar Kecamatan Cisaga, Dr. H. Yat Rospia Brata beserta jajarannya yang didukung oleh seluruh masyarakat di Kecamatan Cisaga secara kosisten dan kontinyu terus berusaha agar pembangunan Masjid Besar Kecamatan Cisaga beserta Gedung Dakwah dapat terus berjalan hingga selesai.
Sebagai simbol akhir dari proses besar pembangunan Masjid Besar Kecamatan Cisaga ditandai dengan diresmikannya Masjid Besar Kecamatan Cisaga dan Gedung Dakwah Kecamatan Cisaga oleh Gubernur Jawa Barat, secara langsung dengan menandatangani prasasti peresmian.
Undangan disampaikan kepada berbagai pihak sebagai bukti turut berbahagia dan bangga atas rampungnya pembangunan Masjid Besar KecamatanCisaga tersebut. Bupati, Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Ciamis, berbagai kepala instansi dan lembaga pemerintahan diundang untuk menghadiri peresmian Majid Besar Kecamatan Cisaga, tidak terkecuali masyarakat umum dan berbagai instansi pendidikan, walaupun acara peresmian digolongkan sangat sederhana.
Undangan Peresmian Masjid Besar Kecamatan Cisaga atau Mesjid Agung Cisaga
Undangan Peresmian Masjid Besar Kecamatan Cisaga

Walaupun sangat sederhana dan diwarnai dengan beberapa kali pemadaman listrik oleh PLN ke wilayah Kecamatan Cisaga, tetapi peresmian Masjid Besar Kecamatan Cisaga secara umumberjalan lancar sesuai dengan apa yang diharapkan.

Selasa, 13 Oktober 2009

BUDAYA SUNDA DI CISAGA

BUDAYA SUNDA DI CISAGA : Ketertarikan Bangsa Lain Akan Budaya Asli Indonesia

08 Oktober 2009, di Cisaga, tepatnya di Cisagakota persis di seberang Mesjid Agung Cisaga, berlangsung sebuah pesta pernikahan antara dua mempelai yang semuaya berasal dari Desa Cisaga. Setting menggunakan setting Budaya Sunda. Upacara adat, termasuk pakaian pengantin adat sunda dikenakan kedua mempelai beserta para kerabat dan panitia. Pernikahan berlangsung lancar dan sukses dimana akad dilakukan langsung di Mesjid Agung Cisaga yang terhalang Jalan Raya Ciamis - Banjar dari tempat belangsungnya pesta pernikahan. Gelaran Electone disajikan untuk menambah semarak pesta pernikahan tersebut.
Menjelang sore, Jalan Raya Ciamis - Banjar masih cukup padat dilalui berbagai kendaraan, termasuk sebuah rombongan tour wisata yang melintas dari arah Ciamis menuju Banjar. Kendaraan yang digunakan jenis bis yang berhenti di Pertigaan Cisaga (Jalan pertigaan Ciamis - Banjar dan Rancah). Rombongan turun dari bis dan berlajan menyusuri jalan Ciamis - Banjar, melewati Kantor Desa Cisaga yang berseberangan dengan desa Alun-alun Kecamatan Cisaga, dan kembali ke depan Mesjid Agung Cisaga tepatnya ke tempat resepsi pernikahan berlangsung.

Beberapa petugas/panitia menjadi sedikit kikuk ketika anggota tour tersebut mengunjungi pesta mereka. Tidak disangka pengantin dikunjungi orang asing di pesta pernikahannya. Kerabat atau rekan?



Dalam beberapa percakapan yang sedikit dimengerti dan saling nyambung, anggota tour tersebut meminta berfoto bersama pengantin yang masih mengunakan pakaian adat sunda. Pengantin dan panitia menyetujui dan mereka asik berphoto bersama beberapa tourist tersebut.


Tidakkah ini merupakan suatu pelajaran, bahwasannya budaya asli suatu daerah atau suku tertentu merupakan suatu daya tarik yang tidak bisa disangkal, disamping keadaan alam ataupun kekhasan dari lain suatu daerah. Adat yang sudah banyak ditinggalkan dengan berbagai alasan, ternyata menarik minat sebagian orang yang memang tidak pernah atau belum pernah menyaksikannya.

Sebagai orang yang "mempunyai adat", kita ternyata mulai meninggalkannya dan menggantinya dengan adat orang lain dan sebaliknya, hingga Malaysia-pun mengklaim dengan seenaknya beberapa budaya atau adat asli Indonesia, toh ternyata orang Indonesia sendiri sudah kurang mempedulikannya.

Sebaiknya kita melakukan flashback, "pantaskah"? Tidak mustahil dimasa yang akan datang, dimana orang Indonesia tidak menggunakan lagi adatnya, Malaysia, India bahkan Amerika Serikat sekalipun dapat mengklaim adat Indonesia. Mungkinkah?

Orang Indonesia umumnya, "Urang Cisaga" khususnya, seharusnya dapat mengenali, melestarikan dan mengunakan adat aslinya dengan baik, tanpa harus takut tertinggal oleh bangsa lain dalam hal kemampuannnya.